Sepakbola adalah hasil kreativitas manusia, dari dan ketika
ia diciptakan sampai bagaimana sepakbola tersebut dimainkan. Dalam skala
industri, sepakbola adalah pekerjaan yang berorientasi pada keuntungan
finansial (pemain, manajemen), sekaligus menjadi kebutuhan hiburan bagi para
pendukungnya (suporter). Bagi sebagian yang lain, sepakbola tidak berhenti pada
kata "hiburan" semata, namun ada semangat, kebanggaan dan cinta yang
terpatri di sana. Dari dua ketergantungan tersebut, sepakbola nyatanya adalah
sebuah permainan yang tidak bisa dimainkan dengan bermain-main, karena ada
tanggung jawab dan target pencapaian. Begitu juga dengan sepakbola di Sleman
yang diwakili oleh PSS Sleman. Sebuah klub sepakbola kabupaten, yang akan
berkompetisi pada Liga 2 musim 2018.
PSS Sleman bergerak dengan ribuan manusia dibelakangnya.
Setiap manusia berperan pada ranahnya masing-masing. Manusia adalah hamba
sekaligus pemimpin. Sebagai hamba, kewajibannya adalah beribadah dan mengabdi
kepada Tuhan. Sudut pendekatan lain sebagai khalifah, tugasnya adalah mengelola
bumi Allah SWT. Oleh karena itu, sepakbola adalah salah satu representasi
pengelolaan sumber daya manusia yang berperan dalam sub kultur kemanusiaan dan
sportifitas. Pengelolaan sepakbola di Sleman khususnya pada PSS Sleman melibatkan
beberapa unsur, di antaranya manajemen, pemain, suporter. Hingga sampai hari
ini, Super Elang Jawa masih berusaha bertransformasi dari Era-APBD menuju
Era-sepakbola profesional. Meskipun belum benar-benar profesional, namun
transformasi tersebut dipermudah dengan adanya suporter yang selalu siap
dibelakang kebanggaan.
Seperti sebuah ekosistem yang sedang jalankan untuk saling
melengkapi dan bersinergi, tidak ada cita-cita maupun laku amal perbuatan
manusia yang tidak terbebas dari campur tangan Tuhan. Berikut dengan cobaan
serta harapan dari pendukung PSS yang sampai saat ini belum juga tercapai.
Rentetan gesekan dengan kelompok lain ataupun malah dengan teman sendiri, baik
di dalam maupun di luar stadion yang akhir-akhir ini sering terjadi, sepakbola
gajah, dan deretan peristiwa yang terjadi karena ulah suporter seolah
menegaskan "Semakin tinggi pohon, maka akan semakin kencang angin
menerpanya".
Rasanya ini menjadi sangat penting, sebagai manusia yang
terus bergerak dalam gelombang dukungan yang tak terbatas. Untuk berjumpa,
duduk bersama, laku wening, mendengarkan, menanyakan, merangkul serta semoga
bisa mengkoreksi yang sudah kita lalui. Di depan jalan terpapang panjang, sudah
semestinya sebagai permulaan kita saling menegasakan rasa ini kembali. Sembari
mengkaji makna manusia yang seutuhnya di hadapan pribadi dan orang lain.
Dari uraian diatas, kami Brigata Curva Sud dalam BCSforPSS#6
berniat mengadakan acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng dengan tema
"Sepakbola, Cinta dan Dedikasi". Hal ini juga sekaligus sebagai
pembelajaran bersama kita sebagai suporter, pemain, manajemen, pegawai,
pengusaha, kepala keluarga, masyarakat, rakyat dan yang lebih substansial
adalah sebagai manusia yang diberikan tugas oleh Tuhan di bumi.

Nice
BalasHapusNice shot
BalasHapusGood
BalasHapus